Pernahkah anda mengalami situasi dimana anda berada di suatu ruangan tunggu di rumah sakit dan anda sedang menunggu proses operasi dari orang yang anda kasihi, baik itu Istri, Suami, Anak, Ayah, Ibu, Saudara dan seorang teman atau sahabat anda? Hmm suasana yang sangat tidak menyenangkan. Hati dag dig dug tak keruan, aliran darah begitu kencang, perasaan juga menjadi tidak enak, pikiran berkecamuk bermacam-macam dari yang paling buruk sampai alternatif ringannya. Reaksi fisiologisnya yah keringat dingin, melangkah kesana kemari tanpa jelas, mata berkaca-kaca. Rasanya waktu begitu lama berlalu dan perasaan ini semakin tidak keruan apabila waktu yang ditentukan oleh para dokter sudah berlalu dan belum ada pemberitahuan apakah sudah selesai atau tidak. Kaki cenderung melangkah dan terus menerus melonggok ke ruang operasi dan suster yang ada di ruangan pun jadi sasaran pertanyaan, “Gimana Suster Operasi sudah selesai atau belum” dan jawaban standar saja dari susternya “Tunggu saja pak, nanti kalau sudah selesai akan kami beritahu. Huh mereka ngga tau apa bagaimana bergejolaknya hati, pikiran ini!!!.
Nah rekan-rekan bagaimana yah supaya kita lebih tenang menghadapi situasi seperti ini ? Beberapa tips yang bisa di lakukan dan berdasarkan pengalamanku menghadapi situasi ini berikut ini :
1. Berdoa, yah iyalah semua orang beriman pada situasi seperti ini akan berdoa dalam hatinya agar proses operasi beralan lancar tetapi kog ngga reda juga gejolaknya. yah meskipun sudah berusaha khusyuk berdoa tetapi pikiranku mendorong secara otomatis melangkah dan melonggok ke ruang operasi yang akhirnya mengganggu konsentrasi berdoa. Menyerahkan semuanya pada penyelenggaraan Tuhan adalah cara terbaik menghadapi situasi ini karena dengan keyakinan penuh akan penyelenggaraan Tuhan dalam proses ini akan memberikan efek yang besar terhadap keyakinan kita terhadap prosesnya.
2. Duduk tenang, kemudian coba tarik napas panjang. Yah anda perlu duduk diam, kemudian tarik napas lalu keluarkan. Hal ini akan membuat kita lebih tenang. Tetapi sampai kapan proses ini berjalan, lama-lama yah capek juga lho tarik napas panjang kemudian lepaskan. Untuk sesaat proses ini cukup membantu tetapi tidak berefek dalam waktu yang lama.
3. Ngobrol dengan Saudara, teman yang sedang menunggu bersama. Ngobrol dengan saudara dapat mengalihakan pikiran kita saat menunggu proses ini namun lama kelamaan kog topiknya abis juga dan setelahnya pikiran kembali lagi ke proses tersebut dan yah tadi reaksi fisik kembali lagi mondar-mandir dan melonggok ruang operasi dengan hati yang gelisah dan kembali bertanya kepada suster jaga dan kembali mendapatkan jawaban standar ”tunggu saja pak, nanti kami akan beritahu”.
4. Online di Facebook dan baca status friendlist yang memotivasi, menyemangati, atau status yang lucu dan kadang malah tambah sedih dan akhirnya comment semua status yang update. Eits ini malah dikira aneh dan memang untuk sesaat dapat mengalihkan perhatian tetapi pikiran tetap akan terpusat pada proses dan yah tetap akan kembali lagi perasaan kurang nyaman.
5. Tips ini saya baca dari buku "The Power of Fear” dan saya mempraktekannya ketika semua langkah di atas sudah ngga mempan lagi mengatasi kegelisahaan. Saya modifikasi sedikit dengan cara saya sendiri dan apa yang saya lakukan pada saat itu. Coba Duduk atau berdiri juga ngga masalah dan mulailah merasakan apa yang terjadi dalam tubuh anda. Perasaan tidak nyaman, kegelisahaan? Yah rasakan ketidaknyamanan itu, identifikasikan letaknya, terus hadapi itu sampai anda menyatu dengan perasaan itu. Pindah ke reaksi fisik kita. Sadari itu, konsentrasi pada detak jantung yang berdegup kencang, rasakan juga keringat dingin yang keluar. Terus raakan itu secara mendalam dan hadapi itu. Hmmm rasakan detak jantung dengan meraba detak jantung kita sendiri. Ikuti semua reaksi fisik itu, coba jangan bereaksi berlawanan dan lakukan itu sampai anda menyatu dengan keadaan itu. Satu hal yang membuat kita dapat lebih tenang pada situasi ini adalah menghadapi perasaan itu. Tidak perlu memaksaakan diri untuk mengendalikan reaksi fsik. Bagaimana dengan pikiran kita? Gabungkan hal ini dengan doa karena kedua hal ini akan lebih powerfull dan berjalan beriringan ketika hati kita mulai tenang, pikiran kita juga akan mulai dapat dikendalikan dan saat itulah mulai berdoa dan menyerahkan segala sesuatunya pada penyelenggaraan Tuhan. Yakinlah kekuatan diri kita dapat mengendalikan keseluruhan proses yang terjadi dalam diri kita. Mulai dari hati, pikiran dan reaksi fisiologis atau perilaku kita serta kekuatan doa dan penyerahan total setiap masalah kita dalam penyelenggaraanTuhan.
Semoga tips bermanfaat juga buat anda dan dapat dipraktekan. Kita tidak pernah berharap akan mengalami peristiwa semacam ini tetapi in case anda mengalaminya, mengapa tidak mencobanya.
Jakarta, 03 Juni 2010
Friday, June 4, 2010
Thursday, June 3, 2010
Sahabat

Cerita, kesan, pengalaman bersama-sama selama ini membuatku terenyuh. Hmmm beginikah rasanya meninggalkan sahabat yang begitu perhatian, mendorong, saling berbagi suka duka selama beberapa tahun terakhir ini. Rasanya berat sekali meninggalkan mereka saat ini. Persahabatan yang ditawarkan selama ini membuat aku teringat pengalamanku akhir-akhir ini. Ketika sedang mengalami masalah mereka berada disamping mendukung, mendorong dan menguatkan aku untuk tetap tenang menghadapi semua tantangan hidup. Keberadaan mereka di saat hati risau menguatkan aku untuk tetap kuat. Keberadaan mereka disaat senang pun meninggalkan begitu banyak cerita. Saat tertawa bersama, membagi cerita lucu, berbagi kisah tentang keluarga apalagi diantara kami merupakan keluarga muda dan baru menjalani pengalaman berumah tangga, atau saling menguatkan saat persiapan rumah berumah tangga.
Guys terima kasih sudah menguatkan, mendukung dan menjadi tempat curahan selama ini. Saya yakin ini bukan menjadi akhir tetapi menjadi awal dari persahabatan baru yang lebih erat. Cerita akan lebih variatif, sharing pengalaman akan lebih kompleks karena situasi kerja sudah berubah. Saya menggambarkan persahabatan ini seperti lagu berikut ini so semoga jadi kenangan terindah buat kita semua :
You’ve Got A Friend by James Taylor
When your down and troubled
And you need a helping hand
And nothing, whoa nothing is going right.
Close your eyes and think of me
And soon I will be there
To brighten up even your darkest nights.
You just call out my name,
And you know whereever I am
I'll come running, oh yeah baby
To see you again.
Winter, spring , summer, or fall,
All you have to do is call
And I'll be there, yeah, yeah, yeah.
You've got a freind.
If the sky above you
Should turn dark and full of clouds
And that old north wind should begin to blow
Keep your head together and call my name out loud
And soon I will be knocking upon your door.
You just call out my name and you know where ever I am
I'll come running to see you again.
Winter, Spring, summer or fall
All you got to do is call
And I'll be there, yeah, yeah, yeah.
Hey, ain't it good to know that you've got a friend?
People can be so cold.
They'll hurt you and desert you.
Well they'll take your soul if you let them.
Oh yeah, but don't you let them.
You just call out my name and you know wherever I am
I'll come running to see you again.
Oh babe, don't you know that,
Winter Spring summer or fall,
Hey now, all you've got to do is call.
Lord, I'll be there, yes I will.
You've got a friend.
You've got a friend.
Ain't it good to know you've got a friend.
Ain't it good to know you've got a friend.
You've got a friend.
Wednesday, June 2, 2010
Confort Zone

Beranjak dari sesuatu yang begitu nyaman dalam kehidupan kita seringkali membuat bingung untuk melangkah lebih jauh. Ada rasa ragu yang timbul. Apakah ini menjadi sesuatu yang baik, apakah pilihan ini lebih baik dari apa yang ada saat ini. Perasaan ini membuat gejolak dalam pikiran dan hati dan fisik. Konflik internal dalam diri kita mulai timbul, apakah hal ini diambil atau dilepas?.
Apa itu confort zone?
Istilah comfort zone bisa equivalent dengan well-being (terminologi yang dikemukakan oleh Rogers dan Maslow). Well being adalah kondisi saat individu merasakan dapat berinteraksi dengan sangat baik dengan lingkungannya. Bahasa sehari-hari adalah 'semua nyaman dalam genggaman'. pada saat demikian orang sangat comfortable ataupun tidak terancam sama sekali. Tulisan ini Merujuk pada situasi well being dalam pekerjaan dan reaksinya fisiologis dan psikologis dari situasi perubahan dari confort zone lama ke situasi yang baru.
Memutuskan beranjak dari confort zone dapat menimbulkan rasa takut dan biasanya diekspresikan melalui beragam reaksi, dapat berupa kegugupan, keringat dingin, gelisah, marah atau mungkin dapat menimbulkan sakit psikosomatis. Ketika memutuskan keluar dari area confort zone, reaksi fisilogis, psikologis yang timbul merupakan reaksi normal. Bahkan mungkin para petinju yang hebat sekelas Chris John juga mengalami ketakutan ketika akan bertarung.
Apabila kita ingin berubah, beranjak dari sesuatu yang nyaman dengan kesadaran dan dorongan dari dalam diri kita secara sukarela maka reaksinya tidak terlalu besar secara fisiologis dan psikologis. Pada awalnya adalah perasaan tidak nyaman, gelisah, keringat dingin namun seiring waktu hal ini akan dengan sendirinya mereda. Apabila perubahan tersebut cukup besar dampaknya pada diri kita, maka perubahan secara fisologis juga akan lebih besar. Lain lagi kalau perubahan itu karena paksaan dari orang lain di luar diri kita maka reaksi fisiologis dan psikologis akan lebih besar.
Rasa nyaman yang sudah berjalan bertahun-tahun dengan lingkungan yang begitu akrab, rekan-rekan yang sudah dikenal, pekerjaan yang sudah dikuasai membuat kita enggan beranjak. Apakah yang membuat situasi confort zone ini? Secara fisik dan psikologis kita memang akan selalu berubah berubah dan secara alami kita memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perubahan itu.
Jangan pernah takut untuk beranjak dari confort zone mu , mungkin saja ini akan memperluas confort zonemu sehingga pengalaman, keahlianmu akan semakin kompleks, mendalam dan luas.
Jakarta, 04 Juni 2010
Thursday, May 20, 2010
Blessing in my life (Continues)

Sdr. Stan, kami persilakan masuk ke ruangan tunggu operasi, saya pun masuk ruangan tersebut dan langsung disambut oleh tangisan seorang malaikat mungil di dalam ruangan kaca. Dokter langsung datang mengucapkan selamat, inilah putri anda yang lahir Senin, 10 Mei 2010 pada pukul 13.54 WIB dengan berat 2,74, panjang 47 cm, jenis kelamin wanita. Mataku langsung teralihkan oleh pandangan seorang bayi mungil yang sedang menangis, kata-kata dokter selanjutnya tidak saya dengarkan lagi karena terpana oleh pandangan ke bayi mungil. Hmm tangisannya melengking memecah kesunyian di ruangan tersebut. Rasa capai karena tidak tidur sejak jam 12 malam sebelumnya langsung hilang dan digantikan oleh rasa suka cita yang tidak dapat aku lukiskan. Oh inilah yang kami tunggu selama 9 bulan terkahir ini, rasanya ingin keraih dia dan kupeluk untuk meredakan tangisannya tetapi tentu saja tidak diperbolehkan oleh dokter dan perawatnya.
Mataku tidak teralihkan dari malaikat kecil yang menangis ini, kupandang dia, wow rambutnya hitam legam, wajahnya, mata bulatnya, tubuhnya, tangannya, kakinya dan Puji Tuhan, anakku terlahir dengan selamat, tanpa cacat. Tangan mungilnya, kaki mungilnya begitu menggemaskan. Dalam hati aku mengucapkan ”Selamat datang malaikat kecilku”. Tuhan begitu baik memberikan berkat yang luar biasa ini kepadaku, proses panjang selama sembilan bulan sudah kami lalui dan lihatlah anugerah indah didepanku begitu sempurna Karya-Mu Tuhan.
Mataku tidak teralihkan dari malaikat kecil yang menangis ini, kupandang dia, wow rambutnya hitam legam, wajahnya, mata bulatnya, tubuhnya, tangannya, kakinya dan Puji Tuhan, anakku terlahir dengan selamat, tanpa cacat. Tangan mungilnya, kaki mungilnya begitu menggemaskan. Dalam hati aku mengucapkan ”Selamat datang malaikat kecilku”. Tuhan begitu baik memberikan berkat yang luar biasa ini kepadaku, proses panjang selama sembilan bulan sudah kami lalui dan lihatlah anugerah indah didepanku begitu sempurna Karya-Mu Tuhan.
Janganlah Gentar Hatimu

Damai sejahterah kutinggalkan bagimu, Damai sejahterah-Ku Kuberikan kepadamu, janganlah gelisah dan gentar hatimu. Kamu telah mendengar, bahwa aku telah berkata kepadamu : Aku pergi tetapi aku datang kembali kepadamu.
Saat misa sore ini ayat inilah yang menguatkan aku untuk memutuskan sesuatu yang menjadi pikiran dan masalahku saat ini yaitu memutuskan untuk mengambil kesempatan berkarir di luar tempat kerjaku sekarang ini.
Disaat aku bingung memutuskan apa yang akan diambil, ayat inilah yang tepat mendorongku untuk mengambil keputusan ini. “Janganlah gelisah dan gentar hatimu”, kekuatan ini yang membuat aku memutuskan masalah ini. Saya menyerahkan semua keputusan ini kepada penyelenggaraan Tuhan Yesus karena saya yakin Tuhanku lah yang menunjukan arah kepadaku disaat aku gelisah, tidak tenang menghadapi situasi ini karena buat aku situasinya cukup tough. Saat ini istriku sedang hamil dan menunggu saat kelahirannya dibulan ini dan kalau saya melepaskan posisiku saat ini berarti aku melepaskan fasilitas yang sudah ada khususnya menjamin kesehatan anakku. Namun dilain pihak kesempatan untuk mnegembangkan karir dengan posisi yang lebih tinggi terbuka lebar namun situasinya di perusahaan baru tentu harus memulai lagi dari awal tanpa fasilitas yang sama dengan sekarang.
Keluar dari zona kenyamanan yang sudah 5 tahun ini aku alami dengan lingkungan yang akrab, teman-teman yang sudah aku kenal, pekerjaan yang sudah dapat direncanakan dan sudah terjadwal menjadi keputusan yang cukup berat. Memulai lagi menjadi ketakutan tersendiri bagiku. Bagaimana lingkungan kerja di tempat baru? Dapatkah saya menguasai pekerjaannya dan melakukan pekerjaa disana dengan biak? Bagaimana rekan-rekan kerjanya, apakah mereka dapat menerima aku dengan baik?. Apakah perusahaan ini dapat menjamin kehidupanku dimasa depan? Bagaimana kalau keluargaku mengalami sakit dan sebagai Karyawan baru saya belum mendapatkan fasilitas separti yang saya dapatkan sekarang ini.
Selama seminggu sebelum saya merencanakan untuk berbicara dengan dengan atasanku, saya mengalami gejolak yang besar antara mengajukan atau tidak dan hari ini disaat satu hari sebelum itu aku mendapatkan satu arahan dari Sabda Tuhanku Yesus supaya saya tidak usah takut dan gentar. Selama 2 minggu terakhir ini saya menmbaca buku yang relevan dengan situasiku dan hal ini bukan karena saya sengaja memilih buku tersebut namun secara tidak terencana saya mengambil satu buku dari rak buku yang belum pernah saya baca yaitu ”The Power of Fear” yang berisi bagaimana mengubah rasa takut menjadi sesuatu yang positif melalui usaha untuk keluar dari Confort zone. Salah satu buku juga yang sempat saya baca di perpustakaan kantor tentang bagaimana mengubah diri dengan berani keluar dari zona kenyamanan. Hari inipun saya tidak membaca ayat ini sebelumnya dan ternyata begitu pas.
Tuhan jikalau ini adalah cara-Mu untuk menunjukan kuasa-Mu kepadaku maka beranikan aku untuk mengambil tindakan nyata dan berusaha bekerja sebaik-baiknya ditempat baru, Amin.
Saat misa sore ini ayat inilah yang menguatkan aku untuk memutuskan sesuatu yang menjadi pikiran dan masalahku saat ini yaitu memutuskan untuk mengambil kesempatan berkarir di luar tempat kerjaku sekarang ini.
Disaat aku bingung memutuskan apa yang akan diambil, ayat inilah yang tepat mendorongku untuk mengambil keputusan ini. “Janganlah gelisah dan gentar hatimu”, kekuatan ini yang membuat aku memutuskan masalah ini. Saya menyerahkan semua keputusan ini kepada penyelenggaraan Tuhan Yesus karena saya yakin Tuhanku lah yang menunjukan arah kepadaku disaat aku gelisah, tidak tenang menghadapi situasi ini karena buat aku situasinya cukup tough. Saat ini istriku sedang hamil dan menunggu saat kelahirannya dibulan ini dan kalau saya melepaskan posisiku saat ini berarti aku melepaskan fasilitas yang sudah ada khususnya menjamin kesehatan anakku. Namun dilain pihak kesempatan untuk mnegembangkan karir dengan posisi yang lebih tinggi terbuka lebar namun situasinya di perusahaan baru tentu harus memulai lagi dari awal tanpa fasilitas yang sama dengan sekarang.
Keluar dari zona kenyamanan yang sudah 5 tahun ini aku alami dengan lingkungan yang akrab, teman-teman yang sudah aku kenal, pekerjaan yang sudah dapat direncanakan dan sudah terjadwal menjadi keputusan yang cukup berat. Memulai lagi menjadi ketakutan tersendiri bagiku. Bagaimana lingkungan kerja di tempat baru? Dapatkah saya menguasai pekerjaannya dan melakukan pekerjaa disana dengan biak? Bagaimana rekan-rekan kerjanya, apakah mereka dapat menerima aku dengan baik?. Apakah perusahaan ini dapat menjamin kehidupanku dimasa depan? Bagaimana kalau keluargaku mengalami sakit dan sebagai Karyawan baru saya belum mendapatkan fasilitas separti yang saya dapatkan sekarang ini.
Selama seminggu sebelum saya merencanakan untuk berbicara dengan dengan atasanku, saya mengalami gejolak yang besar antara mengajukan atau tidak dan hari ini disaat satu hari sebelum itu aku mendapatkan satu arahan dari Sabda Tuhanku Yesus supaya saya tidak usah takut dan gentar. Selama 2 minggu terakhir ini saya menmbaca buku yang relevan dengan situasiku dan hal ini bukan karena saya sengaja memilih buku tersebut namun secara tidak terencana saya mengambil satu buku dari rak buku yang belum pernah saya baca yaitu ”The Power of Fear” yang berisi bagaimana mengubah rasa takut menjadi sesuatu yang positif melalui usaha untuk keluar dari Confort zone. Salah satu buku juga yang sempat saya baca di perpustakaan kantor tentang bagaimana mengubah diri dengan berani keluar dari zona kenyamanan. Hari inipun saya tidak membaca ayat ini sebelumnya dan ternyata begitu pas.
Tuhan jikalau ini adalah cara-Mu untuk menunjukan kuasa-Mu kepadaku maka beranikan aku untuk mengambil tindakan nyata dan berusaha bekerja sebaik-baiknya ditempat baru, Amin.
Subscribe to:
Posts (Atom)