Showing posts with label Confort zone. Show all posts
Showing posts with label Confort zone. Show all posts

Monday, August 9, 2010

Ransel Kehidupan

Setiap orang memiliki rahasia dalam hidupnya.

Anda pasti setuju dengan pernyataan saya mengenai hal ini. Inilah yang kemudian di kembangkan oleh Joseph Luft dan Harry Ingham dalam teori psikologi yaitu Johari Window. Konsep Johari Window ini sendiri menekankan 4 kuadran dalam diri kita yaitu daerah terbuka, daerah tersembunyi , daerah buta, dan daerah yang tidak disadari . Daerah terbuka yaitu hal yang ada dalam diri kita yang kita ketahui dan orang lain juga mengetahuinya, kedua daerah tersembunyi yaitu hal-hal yang saya ketahui tentang diri saya tetapi orang lain tidak mengetahuinya, ketiga daerah buta yaitu hal-hal yang orang lain ketahui tentang diri saya namun saya sendiri belum menyadarinya dan keempat daerah yang tidak disadari yaitu hal-hal yang ada dalam diri saya yang belum saya ketahui begitu juga orang lain.

Disinilah butuh keterbukaan, sharing dan diskusi yang dilakukan agar kita mampu memperkecil daerah tersembunyi, daerah buta dan daerah tidak sadar kita masing-masing sehingga daerah terbuka semakin lebar. Inilah yang terjadi kemarin dalam sebuah kelompok kecil, saya dan beberapa teman-teman berdiskusi, sharing tentang hal-hal yang disembunyikan selama ini. Saya sendiri kaget dengan pengalaman teman-teman yang secara surface tidak memperlihatkan sesuatu yang menunjukan bahwa temanku sudah melewati pengalaman hidup yang tragis, aneh, memalukan dan tentu saja  belum pernah dia ceritakan sebelumnya kecuali dengan orang yang bersinggungan langsung dengan pengalaman tersebut di masa lalu.

Wednesday, June 2, 2010

Confort Zone


Beranjak dari sesuatu yang begitu nyaman dalam kehidupan kita seringkali membuat bingung untuk melangkah lebih jauh. Ada rasa ragu yang timbul. Apakah ini menjadi sesuatu yang baik, apakah pilihan ini lebih baik dari apa yang ada saat ini. Perasaan ini membuat gejolak dalam pikiran dan hati dan fisik. Konflik internal dalam diri kita mulai timbul, apakah hal ini diambil atau dilepas?.

Apa itu confort zone?

Istilah comfort zone bisa equivalent dengan well-being (terminologi yang dikemukakan oleh Rogers dan Maslow). Well being adalah kondisi saat individu merasakan dapat berinteraksi dengan sangat baik dengan lingkungannya. Bahasa sehari-hari adalah 'semua nyaman dalam genggaman'. pada saat demikian orang sangat comfortable ataupun tidak terancam sama sekali. Tulisan ini Merujuk pada situasi well being dalam pekerjaan dan reaksinya fisiologis dan psikologis dari situasi perubahan dari confort zone lama ke situasi yang baru.

Memutuskan beranjak dari confort zone dapat menimbulkan rasa takut dan biasanya diekspresikan melalui beragam reaksi, dapat berupa kegugupan, keringat dingin, gelisah, marah atau mungkin dapat menimbulkan sakit psikosomatis. Ketika memutuskan keluar dari area confort zone, reaksi fisilogis, psikologis yang timbul merupakan reaksi normal. Bahkan mungkin para petinju yang hebat sekelas Chris John juga mengalami ketakutan ketika akan bertarung.

Apabila kita ingin berubah, beranjak dari sesuatu yang nyaman dengan kesadaran dan dorongan dari dalam diri kita secara sukarela maka reaksinya tidak terlalu besar secara fisiologis dan psikologis. Pada awalnya adalah perasaan tidak nyaman, gelisah, keringat dingin namun seiring waktu hal ini akan dengan sendirinya mereda. Apabila perubahan tersebut cukup besar dampaknya pada diri kita, maka perubahan secara fisologis juga akan lebih besar. Lain lagi kalau perubahan itu karena paksaan dari orang lain di luar diri kita maka reaksi fisiologis dan psikologis akan lebih besar.

Rasa nyaman yang sudah berjalan bertahun-tahun dengan lingkungan yang begitu akrab, rekan-rekan yang sudah dikenal, pekerjaan yang sudah dikuasai membuat kita enggan beranjak. Apakah yang membuat situasi confort zone ini? Secara fisik dan psikologis kita memang akan selalu berubah berubah dan secara alami kita memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perubahan itu.

Jangan pernah takut untuk beranjak dari confort zone mu , mungkin saja ini akan memperluas confort zonemu sehingga pengalaman, keahlianmu akan semakin kompleks, mendalam dan luas.
Jakarta, 04 Juni 2010

Thursday, May 20, 2010

Janganlah Gentar Hatimu


Damai sejahterah kutinggalkan bagimu, Damai sejahterah-Ku Kuberikan kepadamu, janganlah gelisah dan gentar hatimu. Kamu telah mendengar, bahwa aku telah berkata kepadamu : Aku pergi tetapi aku datang kembali kepadamu.

Saat misa sore ini ayat inilah yang menguatkan aku untuk memutuskan sesuatu yang menjadi pikiran dan masalahku saat ini yaitu memutuskan untuk mengambil kesempatan berkarir di luar tempat kerjaku sekarang ini.

Disaat aku bingung memutuskan apa yang akan diambil, ayat inilah yang tepat mendorongku untuk mengambil keputusan ini. “Janganlah gelisah dan gentar hatimu”, kekuatan ini yang membuat aku memutuskan masalah ini. Saya menyerahkan semua keputusan ini kepada penyelenggaraan Tuhan Yesus karena saya yakin Tuhanku lah yang menunjukan arah kepadaku disaat aku gelisah, tidak tenang menghadapi situasi ini karena buat aku situasinya cukup tough. Saat ini istriku sedang hamil dan menunggu saat kelahirannya dibulan ini dan kalau saya melepaskan posisiku saat ini berarti aku melepaskan fasilitas yang sudah ada khususnya menjamin kesehatan anakku. Namun dilain pihak kesempatan untuk mnegembangkan karir dengan posisi yang lebih tinggi terbuka lebar namun situasinya di perusahaan baru tentu harus memulai lagi dari awal tanpa fasilitas yang sama dengan sekarang.

Keluar dari zona kenyamanan yang sudah 5 tahun ini aku alami dengan lingkungan yang akrab, teman-teman yang sudah aku kenal, pekerjaan yang sudah dapat direncanakan dan sudah terjadwal menjadi keputusan yang cukup berat. Memulai lagi menjadi ketakutan tersendiri bagiku. Bagaimana lingkungan kerja di tempat baru? Dapatkah saya menguasai pekerjaannya dan melakukan pekerjaa disana dengan biak? Bagaimana rekan-rekan kerjanya, apakah mereka dapat menerima aku dengan baik?. Apakah perusahaan ini dapat menjamin kehidupanku dimasa depan? Bagaimana kalau keluargaku mengalami sakit dan sebagai Karyawan baru saya belum mendapatkan fasilitas separti yang saya dapatkan sekarang ini.

Selama seminggu sebelum saya merencanakan untuk berbicara dengan dengan atasanku, saya mengalami gejolak yang besar antara mengajukan atau tidak dan hari ini disaat satu hari sebelum itu aku mendapatkan satu arahan dari Sabda Tuhanku Yesus supaya saya tidak usah takut dan gentar. Selama 2 minggu terakhir ini saya menmbaca buku yang relevan dengan situasiku dan hal ini bukan karena saya sengaja memilih buku tersebut namun secara tidak terencana saya mengambil satu buku dari rak buku yang belum pernah saya baca yaitu ”The Power of Fear” yang berisi bagaimana mengubah rasa takut menjadi sesuatu yang positif melalui usaha untuk keluar dari Confort zone. Salah satu buku juga yang sempat saya baca di perpustakaan kantor tentang bagaimana mengubah diri dengan berani keluar dari zona kenyamanan. Hari inipun saya tidak membaca ayat ini sebelumnya dan ternyata begitu pas.

Tuhan jikalau ini adalah cara-Mu untuk menunjukan kuasa-Mu kepadaku maka beranikan aku untuk mengambil tindakan nyata dan berusaha bekerja sebaik-baiknya ditempat baru, Amin.