Showing posts with label Jakarta oh Jakarta. Show all posts
Showing posts with label Jakarta oh Jakarta. Show all posts

Sunday, December 26, 2010

Gepeng Gondangdia

Siang ini setelah balik makan siang, saya kaget melihat begitu banyak orang berkerumun di depan pagar kantor. Memang sih setiap hari jumat depan kantor selalu ramai karena orang menghadiri sembayang jumat. Tetapi hari ini agak lain karena gerombolan ini berpenampilan beda dengan orang-orang disekitar. Mereka terlihat dekil, lusush dengan wajah yang terlihat letih dan penuh  guratan keras seperti sudah melewati perjalanan hidup yang berat.

Setelah masuk area kantor saya coba bertanya pada security yang sedang berjaga, Security itu menjelaskan bahwa rombongan itu adalah gepeng/gelandangan yang hidup dari stasiun ke stasiun dan hari ini mereka datang untuk antre sumbangan di masjid Cut Nyak Dien seperti biasanya. Saya kog ngga pernah melihat sebanyak ini jumat sebelumnya? Lalu Security inipun menjelaskan bahwa memang hari ini lebih banyak karena penyumbang terbesar masjid hari ini datang sembayang di situ dan biasanya Setelah sembayang jumat dia membagikan sesuatu kepada para gepeng ini. Oh memang ada gula ada semut dan begitu juga dengan gerombolan gepeng ini ternyata gulanya ada disini sedang bersembayangan. Hmmm mulai sekali hatimu pak, disela-sela rutinitas masih menyisahkan waktu untuk bernbagi. Saya mengenal tokoh ini karena merupakan salah satu kerabat dari mantan penguasa negeri ini meski tidak pernah menjadi pejabat tetapi lebih banyak bergerak dalam bidang pendidikan.

Oh begitu tho, saya kembali melihat rombongan tadi, dan Sambil berpikir kog mereka bisa tahu yah kalau hari ini ada tokoh dermawan di sini. Saya jadi teringat dengan film Slumdog Millioner, betapa rombongan seperti ini di drop oleh orang tertentu dan nanti Setelah itu mereka minta jatah dari para gelandangan.

Friday, October 22, 2010

Keragaman Hidup

Siang ini begitu terik, matahari sedang senang memperlihatkan kekuatannya melalui sinarnya yang terang sampai awanpun enggan menghalangi.

Saya keluar dari kantor  mencari makan siang sendiri karena rekan-rekan pada sholat jumat. Kebetulan  kantorku ini dekat dengan Stasiun Gondangdia sekitar 100 meter berjalan kaki dari kantor dan disana beragam makanan tersedia.

Saya memasuki area lantai dasar stasiun, bau makanan dan lalu lalang orang dan penjual makanan bercampur. Ditenda-tenda tersaji beragam makanan dari gorengan kue, roti, sampai berbagai jenis makanan Indonesia. Saya berencana makan siang di warung Ayam goreng yang menurutku lumayan enak, beberapa kali saya makan di warung itu dan cocok dengan lidahku ini.

Saat memasuki bagian dalam tempat makan ini  mataku terpaku pada pemandangan seorang Ibu muda yang berperwakan lumayan besar sedang memarahi putrinya yang mungkin berumur 3-4 tahun. Kelihatannya sang ibu marah dan kesal  sekali terhadap putrinya  terlihat dari teriakan sang  ibu yang begitu kencang, tidak puas hanya dengan berteriak kemudian dia memukul punggung putrinya dengan keras menggunakan tangannya yang besar. Wadoooh tega sekali ibu ini. Sang anak sambil menahan rasa sakit dan dalam kondisi ketakutan lalu lari mengambil sandalnya.

Oh ternyata sang ibu marah karena anaknya meninggalkan sandal di jalan, mungkin sang ibu takut sandalnya hilang. Sambil berjalan ketempat makan yang saya tuju  saya merenung, pantaskah sang ibu memukul anaknya hanya karena  meninggalkan sandalnya  atau mungkin dia punya masalah lalu dilampiaskan ke anaknya? Padahal sandal itu bukanlah barang yang  mahal menurutku.

Saya sedikit terenyuh dengan kejadian tadi,  anak sekecil itu sudah mendapatkan perlakuan yang keras padahal masih begitu muda dan saya saat makan saya masih saja membayangkan ibu yang begitu emosional  tadi dan cara memperlakukan anaknya yang sangat berlebihan.

Kehidupan di tempat ini memang keras diantara beragam orang kantoran seputaran area ini yang sedang  makan,  berkeliaran juga anak-anak yang menawarkan jasa semir sepatu. Anak-anak yang seharusnya masih SD harus berjuang mendapatkan uang untuk biaya hidupnya. Sementara anak seumuran siswa SMP-SMU dengan suara yang fals dan alat musik seadanya ngamen, lalu yang usianya 20-an - 40-an tahun menjadi tukang ojek dan ada juga yang sudah kakek, nenek membawa plastik kantong hitam yang terbuka dibagian atasnya berkeliling memohon rasa iba /mengemis.

Kehidupan di bawah stasiun ini memang sangat kontras, diseputaran berdiri perkantoran mewah dan para Karyawannya berkumpul, bergurau diantara makan siangnya tentu saja dengan penampilan yang bersih, wangi lalu diseputaran mereka berseliweran juga kehidupan anak-anak yang berusaha mencari makan dengan mengandalkan kemampuan terbatas yang mereka miliki.

Sambil makan saya melihat sekeliling, silih berganti pengamen datang, anak-anak menawarkan semir dan kakek/nenek mendekat membawa kantong plastik. Tempat yang  ramai saat makan siang ini menjadi riuh dengan suara pengamen dan gelak tawa Karyawan yang sedang makan.

Selesai makan saya langsung ke area masjid Cut Meutia dan berbaur dengan keramiaian pasar tumpah yang ada setiap hari jumat.

Jakarta, 22 Oktober 2010